Skip to main content

#165 - apa konklusi hidupmu --- bahagian satu




Ya hanan ya manan, bismillah.

Usai tarawih malam-20, aku kembali ke rumah seperti biasa. Diberi rezeki menikmati tarawih untuk keberapa kalinya. Dingin lembap di luar rumah sejak pagi, aku tuturkan syukur nikmat, alhamdulillah.  Aku baring di riba ibu, ingin bermanja kataku pada ibu. Lalu mulutku ringan sahaja bertanya itu ini, sehingga ibu arahkanku untuk diam kerana ibu mahu fokus berita jam 11 di Awani. Heh. 

Selesai perbaringan atas riba ibu, aku langsung ke bilik. Hari ini, apa pula amalku sebelum tidur. Banyak malam sebelum ini, hanya sekadar membaca, atau biasanya langsung tidur merehatkan mata usai tarawih. Tapi, kenapa mataku masih segar kala jam 11.30 malam sudah. Menginjak ke katil, aku baring beralaskan bantal usang milikku. Tanpa diduga, akalku ligat berfikir merata-rata. 
Sudah malam ke-20. 
Sudah menginjak ke fasa seterusnya.
Sudah menghampiri penghujungnya.
Sudah patut usaha lagi untuk laila yang manis itu.
Sudah cukup pulakah amalku untuk hari-hari sebelumnya.

Apa lagi yang aku bisa lakukan untuk lebih memaknai ramadhan yang sudah di hujung-hujung ini. Otakku ligat berfikir. Tangan mencapai pula telefon bimbit atau telefon tangan kata ibuku, heh. Aku pernah tulis di salah satu draf yang aku biarkan kosong di blogku. Klik, terjumpa entri mengenai muhasabah dulu yang pernah ku tulis, tujuh tingkatan muhasabah yang pernah aku olah dari kak syafa, yang juga sudah lama tidak disemak amal mengenai praktik muhasabah itu. 

Oh, ini rupanya apa yang aku sedang lakukan malam ini, muhasabah. Tujuh muhasabah yang makin hilang dari hati, setelah lama tidak dipraktik dan diulang amal. Tujuh perkara yang pernah merubah aku dari punya segalanya kepada mengaku aku tidak punya apa-apa melainkan Dia. Jauh daripada sedar, tujuh perkara muhasabah itu, aku baca dan ulang beberapa kali, untuk memberikan kesan pada hati. 

Tanpa sedar, keluh juga yang aku hela. Bukan keluh biasa seorang hamba yang kurang apa-apa dari segi harta, tapi keluh hamba yang masih kurang syukur dan muhasabah untuk jiwa. Manusia ini sungguh cepat lupa kan pada tuhan pemberi segala? Langsung aku tutup telefon bimbitku. Mulut terkumat-kamit membaca apa yang sepatutnya.

 Masih mataku belum mahu lelap, aku kembali ke alam nyata, dengan suasana yang gelap gelita, aku berfikir pula; jika takdirku hidup sampai di malam ini sahaja, apa konklusiku untuk hidup selama duapuluh tahun ini? Jantung berdetak sekuat yang mampu pabila memikirkan apa sahaja konklusi hidupku.

Titik jernih keluar pula dari mata. Allahu.

Comments

  1. Well said aimi... Nak baca lagi penulisan aimi😁😁

    ReplyDelete

Post a Comment

comment me :)

Popular posts from this blog

197 - it's been a while

for being imperfect, that is human.

you wish for a perfect day without any flaws, angers, and sorrow but it turns out vice versa.

it’s normal, my dear.

for being imperfect, indeed is for human.

how well you planned your day, 

but because you are a imperfect human who planned,

Allah the perfect one, knows how it will be going; well or bad.

how well you planned your week,

but because you are human full of flaws,

Allah planned it better for you; in many ways.

how well you planned your life,

but because you are a human,

ask, pray, and beg Him to give you the best,

as He knows what’s the best for you.

190 - Wordless Wednesday #4 - a traveler

201 - a sharing to heal your pain

Our iman is not constant. Sometime we feel more close with Allah SWT and sometime we don’t. So when you feel your iman is low turn to Allah SWT and ask for His help. Don’t leave salaah; it’s the foundation and it helps to strengthen our relationship with Allah SWT. The emptiness that we feel can only be filled with the love of Allah SWT. When we try to fill that emptiness with something else that can be a love for a person, wealth etc. then it will cause great pain in the end. When we love something more than Allah SWT then it will cause greatest pain. So strive to get closer to Allah SWT. “Truly in the heart there is a void that can not be removed except with the company of Allah. And in it there is a sadness that can not be removed except with the happiness of knowing Allah and being true to Him. And in it there is an emptiness that can not be filled except with love for Him and by turning to Him and always remembering Him. And if a person were given all of the world and what is in it…